Green Force Run (GFR) 2026 tak hanya menjadi ajang adu cepat di jalan. Di tengah 6.000 pelari yang memadati rute jalanan di Surabaya pada Minggu, 28 Juni 2026 sejumlah peserta justru mencuri perhatian dengan kostum unik. Mulai dari pocong, barongsai, pakaian adat Papua, hingga Mario dan Luigi. Kehadiran mereka sukses menghibur sesama pelari maupun warga yang menyaksikan dari tepi jalan.
Salah satu peserta yang paling menyita perhatian adalah Mochammad Yohansyah. Warga Surabaya tersebut mengikuti kategori 5K dengan mengenakan kostum pocong yang sukses membuat banyak peserta dan penonton menoleh. Penampilannya bahkan mengantarkannya meraih penghargaan Best Costume pada GFR 2026.
Yohansyah mengatakan kostum itu memang ia siapkan secara khusus untuk memeriahkan perayaan ulang tahun Persebaya dan Kota Surabaya yang menjadi tema besar GFR tahun ini.
Baca Juga: Mengusung Semangat Lebih dari Lari, Surabaya Green Force Run 2026 Dimulai!
Kostum tersebut bukan hasil sewa, melainkan bagian dari aktivitasnya sebagai anggota Komunitas Cosplay Hantu Indonesia di Surabaya. Ia mengaku sudah terbiasa mengikuti ajang lari dengan mengenakan kostum serupa.
"Ini sudah ketiga kalinya saya lari pakai kostum hantu. Tahun lalu waktu Halloween di Surabaya, kemudian di Jogja, dan sekarang di Green Force Run," katanya.
Meski tampil menyeramkan, respons yang diterima justru penuh antusias. Banyak peserta menyapa, mengajak berfoto, hingga saling memberikan semangat sepanjang lintasan. "Seru sih. Selain lari buat diri sendiri, saya juga bisa kasih semangat ke pelari-pelari lainnya," ucapnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam membuat kostum bukan pada jubahnya, melainkan detail topeng agar terlihat semakin realistis.
Baca Juga: Dari Grafir Medali hingga Pos Fisio, Race Village GFR 2026 Siap Manjakan Pelari
"Kalau prosesnya tidak ada kesulitan, paling di topeng saja. Biasanya komunitas lebih fokus ke detail-detailnya supaya terlihat realistis," tambahnya.
Tak kalah menarik, Daffa Ferdiansyah dan Adit Arta juga sukses mencuri perhatian dengan membawa barongsai sepanjang lintasan. Berlari sambil memanggul properti barongsai tentu membutuhkan persiapan lebih dibanding peserta lainnya.
Mereka mengaku rutin berlatih bersama komunitas setiap pekan agar mampu tetap berlari sambil membawa properti tersebut.
"Memang agak sedikit susah karena lari sambil bawa barongsai, tapi dicoba terus akhirnya bisa. Tahun ini seru, banyak yang nyapa tadi di jalan," ujar mereka.
Penampilannya ini pun menjadi hiburan tersendiri bagi peserta maupun masyarakat yang berada di sepanjang rute.
Selain pocong dan barongsai, peserta lain juga memilih tampil berbeda dengan kostum yang tak kalah kreatif.
Jeny Ekasari, peserta kategori 5K asal Malang, mengenakan pakaian adat Papua. Berbeda dari kebanyakan pelari yang memilih pakaian seringan mungkin, Jeny justru sengaja memakai kostum tersebut agar tampil beda sekaligus menambah keseruan selama mengikuti GFR.
"Saya pakai kostum Papua ini biar kelihatan berbeda saja. Sejujurnya lebih enjoy kalau pakai kostum seperti ini karena bonusnya bisa dapat foto-foto yang cakep," ujar Jeny.
Menurutnya, mengenakan kostum sama sekali tidak mengganggu kenyamanan saat berlari. "Saya tetap mudah bergerak leluasa. Jadi buat larinya lebih seru lagi," katanya.
Sementara itu, Oky Pradhana Bakti dan Doni Hariadi tampil kompak sebagai Mario dan Luigi. Dua peserta kategori 5K asal Surabaya tersebut sengaja memilih karakter legendaris dari gim populer karena mudah dikenali semua kalangan sekaligus tetap nyaman digunakan untuk berlari.
"Kita cari yang simpel supaya tetap bisa lari semaksimal mungkin, tidak mengganggu, lebih semangat, dan bisa menghibur pelari-pelari lainnya," kata Oky.
Menurut mereka, Mario dan Luigi merupakan karakter yang akrab bagi anak-anak hingga orang dewasa. Selain itu, properti yang digunakan juga sederhana sehingga tidak membatasi gerakan.
"Dua tokoh ini legend. Semua orang pasti kenal. Propertinya juga tidak banyak, tinggal topi, kumis, sama sarung tangan. Jadi larinya tetap enjoy dan bonusnya bisa menghibur pelari lainnya," jelasnya.
Kehadiran para peserta berkostum menjadi warna tersendiri dalam Green Force Run 2026. Selain memeriahkan suasana, aksi mereka menghadirkan hiburan bagi ribuan pelari dan masyarakat yang memadati sepanjang rute. GFR pun kembali membuktikan bahwa ajang lari bukan hanya soal mencatat waktu terbaik, tetapi juga menjadi ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan berbagi semangat bersama. (Jga)