Surabaya Green Force Run 2026 dan Ledakan Catatan Waktu Terbaik

Kebut-kebutan. Surabaya Green Force Run 2026 berhasil membantu para pelari untuk bisa mengukir catatan waktu terbaik (personal best). Ini membuat ajang lari yang diselenggarakan pada Minggu, 28 Juni 2026 sah disebut sebagai balapan lari terbesar di Surabaya. 

Rute yang relatif landai dan tidak banyak belokan yang ekstrem memudahkan langkah para pelari untuk terus menjaga laju mereka. Tahun lalu hanya ada enam peserta yang berhasil finis di bawah waktu 1 jam 45 menit pada kategori Half Marathon. Yup, hanya enam pelari.

Tahun ini ada 28 pelari yang berhasil menyelesaikan tantangan rute Surabaya Green Force Run dengan catatan waktu kurang dari 1 jam 45 menit! Bahkan, course record untuk kategori putra.  Thomas Kipkorir berhasil mengukir rekor baru, ia finis dengan catatan 1 jam 14 menit 3 detik.

Sebanyak 28 pelari tersebut bukan hanya berhasil menamatkan rute Surabaya GFR 2026 saja. Mereka juga berhasil membuktikan bahwa tak ada batasan yang tidak bisa ditembus. 

“Tahun ini para pelari berlomba buat bisa mecahin personal best masing-masing. Didukung sama cuaca Surabaya yang lumayan sejuk waktu paginya itu sedikit banyak membantu mereka meraih target masing-masing,” ungkap Stephanus Iant, koordinator race dari Surabaya Green Force Run 2026.

Catatan kebut-kebutan juga tak berhenti sampai di situ. Jika ditotal, ada 74 pelari yang berhasil finis kategori Half Marathon di bawah dua jam. Yup, berlari sejauh 21,0975 kilometer dengan catatan waktu kurang dari dua jam tidak mudah. Itu jarak yang panjang.

Rata-rata pace mereka sekitar 5,41 menit/km hingga 5,68 menit/km. Perlu keteguhan hati, konsistensi berlatih, hingga mental yang kuat agar kecepatan kaki melangkah tidak menurun. Itu adalah pencapaian besar bagi pelari karena berhasil menyelesaikan lari Half Marathon di bawah dua jam.

Tahun lalu, hanya ada 31 pelari yang berhasil menyelesaikan rute GFR dengan catatan di bawah 2 jam. Di kategori 10K ada 129 pelari yang berhasil finis dengan catatan waktu di bawah satu jam. Sebagai catatan ada tujuh pelari yang berhasil finis di bawah 40 menit untuk kategori 10K.  Kencang-kencang.

Fenomena ini juga didukung oleh pembagian pacer pada dua kategori tersebut, “Peran pacer di event lari banyak membantu peserta buat meraih catatan waktu terbaik. Para pacer juga berhasil finis sesuai dengan waktu yang ditetapkan,” kata Stephanus Iant, koordinator race Surabaya Green Force Run 2026.

Koordinator race Surabaya Green Force Run 2026, Stephanus Iant, mengatakan kalau secara umum kondisi jalan dan lalu lintas selama lomba berlangsung relatif kondusif.

“Rute relatif steril. Memang ada sejumlah kasus penerabasan oleh pengguna kendaraan yang nggak sabar. Tapi jumlahnya tidak signifikan,” ungkapnya.

Penyelenggaraan tahun ini pun banjir pujian. Panitia berhasil menempatkan marshal di titik-titik krusial yang rawan bersinggungan dengan pengguna kendaraan. Kesigapan marshal, kecepatan marshal dalam mengamankan jalur pelari menuai apresiasi.

“Saya berterima kasih sekali kepada para marshal yang bertugas. Mereka bukan hanya mampu mengamankan rute agar tetap steril. Tetapi juga menjaga keselamatan dan kenyamanan pelari dan pengguna kendaraan,” terangnya.

Atmosfer perlombaan yang kompetitif, serta pengalaman berlari yang positif menjadi indikator bahwa budaya lari di Indonesia khususnya Surabaya terus berkembang ke arah yang lebih baik. Bukan tidak mungkin untuk penyelenggaraan mendatang rute Green Force Run mendapat certified coursed measurement dari World Athletic.(*)