Erwin Sulistio (kiri) dan Basuki Rahmat (kanan) setelah mengambil perlengkapan lomba pada hari kedua RPC GFR 2026

Deretan Pelari Tertua di GFR 2026, Apa Motivasi Mereka?

Rangkaian Race Pack Collection (RPC) Surabaya Green Force Run (GFR) 2026 telah memasuki hari ketiga. Semakin dekat menuju race day, Minggu, 28 Juni 2026. Semakin banyak juga para peserta yang berbondong-bondong mengamankan perlengkapan lari mereka di GOR Pancasila, Surabaya.

Event lari yang sekaligus menjadi panggung perayaan ulang tahun Persebaya Surabaya dan Kota Surabaya ini terbuka untuk semua kategori usia. Ya, mereka yang sudah tidak muda lagi pun juga dapat berpartisipasi. Bahkan faktanya, terdapat 112 pelari GFR 2026 yang telah menginjak usia 60 tahun ke atas.

Basuki Rahmat adalah salah satu dari mereka. Pria berusia 64 tahun itu akan menjalani debutnya di GFR bersama barisan pelari kategori 5K.

“Saya baru 2 tahun aktif berlari. Ikut GFR karena mau menyaksikan kemeriahan dan have fun saja,” ucap Basuki yang juga menggemari olahraga badminton.

Menurut Basuki, lari sudah bukan lagi tentang mengejar pace dan personal best, melainkan tentang menjaga kesehatan agar tetap maksimal. Maka dari itu, olahraga ini sering menjadi opsi untuk mengisi kesehariannya. “Dengan olahraga lari ini badan saya jadi semakin segar,” terang pria kelahiran tahun 1962 itu.

Ada pula satu hal yang paling Basuki suka dalam olahraga lari, yaitu ia bisa bertemu dengan teman-teman baru. Itu membuat kehidupan masa tuanya menjadi semakin berwarna.

“Lari kan olahraga yang sangat populer. Di mana pun tempatnya selalu ada yang bisa diajak kenalan,” sebut Basuki yang kini tinggal di daerah Rungkut.

Baca juga: Ambil Racepack GFR 2026, Bonek-Bonita Kompak Pakai Jersey Kebanggaan!

Erwin Sulistio dan Basuki Rahmat

Momen Basuki Rahmat dan Erwin Sulistio setelah mengecek nomor dada pada hari kedua RPC GFR 2026

Di sebelah Basuki, ada sahabatnya, Erwin Sulistio, yang akan menemaninya dalam kategori 5K GFR 2026. Berbeda dengan Basuki, pria kelahiran tahun 1963 itu sudah dua kali menaklukkan kompetisi lari ini.

Titik start GFR tahun ini berhasil memikat hati Erwin untuk kembali berpartisipasi. “Euforia GFR ini berbeda dari yang lain karena start-nya di Tugu Pahlawan,” sebut Erwin yang kini berumur 63 tahun.

Erwin juga menantikan keseruan berbagai aktivitas yang akan diselenggarakan di salah satu situs bersejarah Kota Surabaya tersebut. Namun, yang paling ia tunggu-tunggu adalah kehadiran pemain-pemain Persebaya. “Saya Bonek Mania!” tegasnya.

Olahraga lari sudah mendarah daging dalam diri Erwin. Pria yang menjalani kesehariannya di daerah Gubeng itu biasanya mengikuti tiga sampai empat event lari dalam setahun. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, kuantitasnya semakin berkurang.

Kesehatan juga menjadi faktor utama Erwin rajin berlari di usia tua. Secara khusus, ia ingin menjadi inspirasi bagi orang-orang dengan kategori umur yang serupa dengannya.

“Saya fokusnya di pernapasan. Jantung lebih bugar. Tiap ketemu mereka yang ngos-ngosan, saya selalu semangati. Setelah mereka tanya umur saya, mereka bilang, ‘Itu lho, ada bapak-bapak umur 63 tahun masih semangat,’” cerita Erwin.

Memasuki GFR 2026, sepasang sahabat itu memegang satu prinsip yang sama. “Kita memang tergolong manula (manusia usia lanjut), tapi kita gak merasa tua. Masih semangat!” tutup Erwin.

Baca juga: Ketika Yang Muda dan Lansia Punya Tekad Sama di GFR 2026!

Kalau Basuki dan Erwin ingin bersenang-senang dan mengupayakan pola hidup sehat, Didik Prijanto punya motivasi yang berbeda. Mantan atlet sprint 100 meter itu konsisten menamatkan rute lari kategori 5K dalam dua edisi terakhir GFR.

Kendati demikian, Didik memutuskan untuk tidak berpartisipasi di GFR tahun ini. Pria berusia 62 tahun itu punya misi khusus yang ingin ia selesaikan: Mengantar cucunya, Dania Fainisa Putri, untuk berdiri gagah di posisi teratas kategori 5K. 

“Cucu saya mau ngejar dapat podium di Green Force Run. Belum pernah dia soalnya,” ucap pria yang sekaligus mengepalai Gatotkaca Athletic Club itu.

Didik Prijanto

Didik Prijanto setelah mengambil perlengkapan lomba cucunya, Dania Fainisa Putri, pada hari kedua RPC GFR 2026

Didik merupakan sosok yang lebih dari sekedar panutan bagi Dania. Ia juga tidak pernah berhenti memberikan dukungan penuh kepada cucunya yang masih menduduki bangku kelas 5 SD. 

“Saya selalu kasih semangat. Kalau dia bisa podium, saya berikan uang dua kali lipat dari hadiah posisi di podium itu. Misalnya kalau 500 ribu saya kasih 1 juta, kalau 1,5 juta berarti saya kasih 3 juta,” jelas Didik.

Dania dan Didik

Aksi Dania Fainisa Putri dan Didik Prijanto sebagai seorang pelari

Menyadari pesaing Dania yang mayoritas berusia jauh lebih tua darinya, Didik tetap percaya diri dan tidak khawatir. “Karena sering lari di event lain, dia sudah tahu semua nama-nama serta kelebihan dan kelemahan mereka. Dia sudah kenal,” tegasnya.

Dengan demikian, GFR 2026 akan menjadi memori yang akan selalu melekat dalam diri para pelari yang sudah tergolong lansia. Selain dapat membugarkan tubuh, mereka juga bisa menikmati beragam momen seru dan berkesan bersama teman-teman dan keluarga tercinta. (cle)

Baca juga: Dari Proposal Skripsi sampai Patah Hati, Semua Dilariin di GFR 2026