Keseruan Green Force Run 2025

Pentingnya Kendali dan Kenali Diri dalam Olahraga

Olahraga lari terus menjadi tren positif di Indonesia. Lari pun juga terus bertransformasi. Namun, para pelari harus memperhatikan kesiapan diri yang mereka butuhkan sebelum berlari. Plus berbagai risiko cedera yang mengintai.

Yap, olahraga apapun memang berpotensi menerima cedera, termasuk lari. Ada beberapa hal yang bisa membuat pelari-pelari rekreasional cedera. Mulai dari intensitas latihan tinggi tanpa disertai persiapan yang matang. Sampai ambisi menggebu.

Iya, ambisi kerap kali menjadi bumerang bagi para pelari rekreasional. Padahal, ambisi diperlukan sebagai bahan bakar tambahan semangat yang menjadi teman latihan.

Bulan Ramadna juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pelari. Di tengah menjalankan puasa, mereka juga ingin untuk tetap bisa berlari rutin. Ada yang berlari sebelum jam berbuka puasa, ada yang mulai berlari setelah berbuka, ada juga yang berlari menjelang dini hari. 

“Bicara bagus atau nggak, kegiatan olahraga itu sudah dilakukan sudah lebih baik ketimbang nggak sama sekali,” ujar dr. Pratama Wicaksana Wijaya, Sp.KO, yang juga menjadi medical advisor Surabaya Green Force Run.

Fenomena kegiatan berlari di bulan Ramadan memang sudah ada sejak lama. Bahkan, berlari saat dini hari pun sudah dilakukan bagi sebagian orang sejak sebelum pandemi.

“Orang-orang itu menamai kegiatan itu dengan nama Sahur Run. Ada yang start jam 9 malam sampai jam 12 malam selesai. Ada juga yang dimulai sebelum subuh sampai menjelang sahur,” ungkapnya.

Beliau tak mempermasalahkan rutinitas tersebut. Ada satu hal yang menjadi kekhawatirannya dengan kegiatan berlari di bulan Ramadan adalah soal waktu istirahat tubuh.

“Satu yang perlu diperhatikan sama pelari itu lebih ke ritme atau waktu istirahat tubuh mereka. Jam sembilan ke atas itu sudah menjadi waktunya tubuh untuk beristirahat. Harapannya sih kalau bisa sebelum jam sembilan sudah selesai biar tubuh bisa beristirahat,” terangnya.

Dokter Tommy juga menambahkan, “Kalau dibilang ideal ya lebih ideal dilakukan setelah berbuka. Karena tubuh sudah diisi kembali dengan makanan dan cairan. Sehingga resiko untuk kekurangan gula sampai dehidrasi juga jadi minim,”

Intensitas berlari selama bulan Ramadan juga menjadi perhatian khusus dr. Tommy ke pelari-pelari rekreasional. Menurut beliau para pelari perlu mengenali lebih dalam tubuh mereka. 

Ambisi bukan satu-satunya jadi bahan bakar semangat. latihan rutin tepat secara jarak, intensitas, dan jenis latihan juga penting.

“Pada dasarnya balik lagi ke tiap individu. Setiap individu itu perlu mengenali tubuh mereka, kapan harus latihan dengan intensitas yang cukup berat, kapan waktunya intensitas rendah atau santai,” ujarnya.

Lari bukan sekadar ikut-ikutan, tapi juga untuk mengukur kemampuan diri. Untuk pola hidup yang lebih sehat jangan malah sebaliknya,

“Cara sederhana buat mengukur batasan diri di lari itu dengan metode talk test. Intensitasnya rendah itu berarti dia bisa lari sambil nyanyi. Kalau sedang ya lari sambil ngobrol. Kalau tinggi ya larinya cuman bisa ngomong satu kata dan dua kata aja,” tandasnya.

Mendengarkan suara dari tubuh menjadi satu hal bijak bagi para pelari.