Race Pack Collection (RPC) Surabaya Green Force Run 2026 menyajikan beragam kisah inspiratif. Tujuan utama para peserta tidak hanya sekedar finis sebelum batas waktu (cut-off time). Mereka memasang target khusus lainnya yang melebihi itu.
Atik Puji merupakan salah satu pemilik kisah tersebut. Debutan kategori 5K ini membawa semangat “Lebih dari Lari” ke tingkat yang jauh lebih tinggi.
Memasuki event perayaan hari jadi Persebaya Surabaya sekaligus Kota Surabaya tahun ini, Atik sedang berjuang untuk melawan penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang sudah menimpanya sejak Agustus 2025 lalu.
Kondisi tersebut membuat Atik harus keluar masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), mendapatkan penanganan medis yang serius, dan istirahat total selama 5 bulan. “Saya tidak bisa melakukan kegiatan dengan intensitas seperti biasa. Saya hanya ingin bisa bergerak lagi tanpa merasa takut dengan kondisi tubuh saya sendiri,” ceritanya.
Namun, Atik menemukan satu hal yang dapat membantunya untuk bangkit dan percaya diri: lari. Aktif berlari sejak Juni 2025, Atik mulai menganggap olahraga ini bukan sekedar hobi, melainkan sarana untuk memulihkan diri.
Setelah dinyatakan boleh menerima layanan rawat jalan, wanita berusia 25 tahun ini memulai kembali kiprahnya di dunia lari dengan langkah kecil. Dimulai dari berjalan, jogging pelan, hingga lari intensitas rendah.
“Lari mengajarkan saya untuk tidak terburu-terburu. Setiap kilometer yang saya tempuh menjadi pengingat bahwa proses pemulihan membutuhkan kesabaran dan konsistensi,” sebut Atik.

Momen Atik Puji belari di jalanan Kota Surabaya pada 2025 silam
Menurut Atik, lari bukan hanya tentang kecepatan atau mengejar target waktu, tetapi tentang membuktikan kepada diri sendiri bahwa ia bisa berdiri kembali setelah melewati masa-masa sulit.
Itu membuat GFR 2026 menjadi ajang yang spesial untuknya. Ia sangat menantikan GFR karena ia ingin kembali menunjukkan performanya di perlombaan lari. Bukan hanya itu, ajang ini juga makin memicu semangatnya untuk pulih dari penyakitnya.
Tidak ketinggalan, Atik juga ingin bertemu banyak orang dengan dorongan yang sama di event lari perdananya pada 2026 ini. “Saya ingin merayakan kesehatan yang dulu sempat terasa sangat berharga,” tambahnya.
Kini, Atik telah memasuki bulan ke-10 dalam masa pemulihannya. Selama berlatih, ada satu kalimat yang ia ucapkan berulang-ulang kepada diri sendiri, “Pelan tidak apa-apa, yang penting tetap melangkah.”
Setiap langkah kecil yang Atik ambil adalah bukti bahwa ia tidak pernah menyerah. Baginya, lari merupakan alat yang membuatnya mampu menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih bersyukur, dan lebih menghargai setiap proses. (cle)