Sebaiknya, lari berdasarkan jarak atau waktu? Pertanyaan ini kerap kali muncul dan diutarakan oleh para pelari ketika hendak menyusun program latihan. Yap, ketika pelari menyusun program latihan untuk lomba lari tertentu, kebingungan-kebingungan tersebut selalu muncul. Jarak dulu atau waktu dulu.
Jannet Hamilton, fisiologi olahraga dan pelatih lari di Running Strong, berbagi sudut pandang terkait dua program latihan yang sama-sama punya keunggulan masing-masing.
Lari berdasarkan jarak
Bagi Janet, lari berdasarkan jarak sangat cocok bagi para pelari yang memang telah mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan. Jauh sebelum memulai menu latihan tersebut, para pelari perlu memastikan diri bahwa tubuhnya cukup kuat dan mampu untuk menyelesaikan serangkaian menu tersebut.
Menu latihan lari berdasarkan jarak membantu para pelari memahami tubuh mereka ketika perlombaan berlangsung. Yap, lari berdasarkan jarak sedikit-banyak membantu para pelari mengenali diri.
“Kalau seorang pelari berlari sejauh 6 mil atau sekitar 9,6 km dengan usaha cukup tinggi, pelari akan memahami dengan baik memampuannya dalam lari 10K,” ungkapnya.
Salah satu tantangan dari metode latihan lari berdasarkan jarak ini adalah pelari harus pintar mengatur laju kecepatan berlarinya. Yap, jika kecepatan saja yang diperhatikan oleh para pelari, mereka akan kehilangan semua manfaat dari metode ini seperti, pengembangan serat otot, peningkatan efisiensi lari, serta keuntungan lainnya.
Lari berdasarkan waktu
Metode latihan lari berdasarkan waktu sedikit lebih ramah bagi para pelari. Apalagi para pelari yang mengikuti metode Jeff Galloway (Run, Walk, Run). Kok bisa lebih ramah? Yap, metode lari berdasarkan waktu tidak begitu menyeramkan ketimbang. Pasalnya ketika para pelari memilih metode lari berdasarkan jarak, mereka pasti memikirkan perihal kecepatan laju berlari sebagai bahan acuan.
Hal ini jelas membantu para pelari untuk memasuki zona detak jantung yang berbeda. Manfaat yang paling terasa dari metode lari berdasarkan waktu sudah pasti pelari merasa lebih bugar secara keseluruhan.
Satu hal yang menjadi masalah adalah latihan lari berdasarkan waktu tidak cocok bagi pelari yang punya jiwa kompetitif kuat. Yang gemar melacak kesepatan mereka dan memasang target jarak tertentu.
“Lari sejauh 5K dengan intensitas tinggi dan lari sejauh 21K dengan sedikit lebih santai jelas dua hal yang berbeda. Kalau bicara intensitas, lari 5K dengan zona detak jantung empat dan lima sedikit lebih berat,” ungkap dr. Pratama Wicaksana Wijaya, Sp.KO, medical advisor Green Force Run.
“Tapi, untuk ototnya, 21K lebih berat, karena beban yang diberikan ototnya, durasi, dan jarak juga lebih besar,” terang dr. Tommy.
Selain itu, dr. Tommy juga mengingatkan orang-orang bahwa para pelari yang sudah mendaftar untuk mengikuti sebuah ajang lomba lari tidak boleh dianggap remeh.
“Pada dasarnya sudah bergerak (lari) saja itu lebih baik ketimbang tidak dilakukan,” tandasnya
Jangan sampai kelewat, pendaftaran Normal Price Surabaya Green Force Run 2026 masih tersedia dan bisa kamu dapatkan di website Green Force Run (greenforcerun.id).