Kenceng banget larinya, itu manusia atau cheetah? Ungkapan tersebut kerap kali dilontarkan kepada sesama pelari ketika mengetahui pelari-pelari Kenya yang merajai beberapa perlombaan Maraton di Indonesia.
Saking cepatnya pelari-pelari Kenya finis, jarak antara mereka dengan pelari-pelari internasional lainnya seolah terlihat jauh.
Masalahnya, pelari-pelari asal Kenya ini bukan hanya mendominasi di Indonesia saja. Mereka juga bersinar di dunia. Dilansir dalam World Athletic, tiga pelari asal Kenya mendominasi lima besar peringkat pelari di dunia.
Bahkan, pencetak catatan waktu tercepat pun berasal dari sana. Ya, Sabastian Sawe menjadi manusia pertama yang berhasil menamatkan perlombaan maraton dengan catatan waktu di bawah dua jam.
Lantas, bagaimana negara yang baru merdeka pada tahun 1963 ini bisa mencetak pelari-pelari yang merajai podium-podium balapan di Indonesia?
Semua bermula ketika Olimpiade 1968 di Meksiko. Kisah keberhasilan Kipchoge Keino mengubah sudut pandang masyarakat Kenya tentang lari. Keino mendulang dua emas dan satu perak selama mengikuti ajang Olimpiade.
Ia ditahbiskan menjadi atlet terbaik asal Afrika sepanjang masa. Selain itu, Keino juga menginisiasi banyak masyarakat Kenya kala itu bahwa lewat lari bisa mengubah jalan atau hidup seseorang.
Pemahaman ini didukung dengan fasilitas The Kenya Amateur Athletic Association (KAAA) yang berdiri pada tahun 1951. Wadah ini bisa dibilang menjadi cikal banyak mengapa pelari-pelari Kenya bisa mendominasi baik di trek lari hingga jalanan.
Perlahan namun pasti, banyak atlet-atlet lari asal Kenya yang mendapat beasiswa ke luar negeri dan juga berkompetisi di Eropa dan Asia.
Di periode yang sama, dibangun pula kamp atlet kelas dunia di dataran tinggi, salah satunya adalah Iten dan Nyahururu yang terletak di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.
Ini juga menjadi cikal bakal perjalanan Eliud Kipchoge yang bergeser dari trek menuju marathon pada tahun 2013. Kipchoge menjadi satu-satunya atlet yang meraih medali tiga edisi Olimpiade berbeda (2016 di Rio, 2020 di Tokyo, dan 2024 di Paris).
Secara sederhana, anak-anak Kenya yang ingin menjadi pelari benar-benar difasilitasi (baik secara sengaja maupun tak sengaja). Alam, kebiasaan, dan kisah-kisah sukses para pendahulu mereka.
Dedikasi, prestasi inilah yang menginspirasi banyak anak-anak Kenya. Mereka sudah semakin menyadari dengan semua yang dimiliki, cara terbaik untuk mengubah nasib adalah dari lari.
Di Green Force Run, dua pelari Kenya memegang course record Half Marathon. Adalah Dennis Isika di kategori putra yang finis dengan catatan waktu 1 jam 14 menit 35 detikĀ dan Jackline Nzivo di kategori putri finis dengan catatan waktu 1 jam 26 menit 58 detik.
Keduanya dipastikan kembali lagi di Surabaya Green Force Run 2026. Memecahkan course record tahun lalu menjadi misi utama Dennis dan Jackline. Sampai ketemu di 28 Juni!(*)